MOTTO FKM UNIMAL

MOTTO FKM UNIMAL

Senin, 21 Oktober 2013

MATRIKULASI MP2 KE-3


Selamat datang di Elearning ke-3 Manajemen Puskesmas 2, bagi yang mengikuti elearning ini wajib mengisi absen di kolom komentar dengan cara ketik “<nama mahasiswa> hadir”.

Untuk mengisi absen di kolom komentar silahkan klik disini

Setelah anda mengisi absen maka bisa langsung mengikuti topik selanjutnya dengan cara klik disini.

DESA SIAGA


























Berikutnya anda wajib menjawab pertanyaan di kolom komentar.

  1. Konsep Desa siaga mempunyai peran penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, sebutkan melalui mekanisme apa saja Desa Siaga bisa berperan meningkatkan kesehatan masyarakat ?
  2. Organisasi pelayanan apa saja yang bisa dikembangkan dalam Konsep Desa Siaga ?

ELEARNING ANALISIS KEBIJAKAN KESEHATAN KE-4



Selamat datang di Elearning Analisis Kebijakan Kesehatan Ke-4, bagi yang mengikuti elearning ini wajib mengisi absen di kolom komentar dengan cara ketik “nama mahasiswa hadir”.

Untuk mengisi absen di kolom komentar silahkan klik disini

Setelah anda mengisi absen maka bisa langsung mengikuti topik selanjutnya tentang Kebijakan Kesehatan dengan cara klik disini.

KEBIJAKAN KESEHATAN















Selanjutnya silahkan jawab pertanyaan dibawah ini di kolom komentar :

  1. Jelaskan tentang perubahan paradigma pelayanan kesehatan dan berikan contohnya.
  2. Salah satu Perubahan dalam reformasi kesehatan adalah tentang pembiayaan kesehatan, berikan contohnya sistem pembiayaan kesehatan sesuai dengan Sistem Jaminan Kesehatan Nasional.

ELEARNING ANALISIS KEBIJAKAN KESEHATAN KE-3

ELEARNING ANALISIS KEBIJAKAN KESEHATAN KE-3

Selamat datang di Elearning Analisis Kebijakan Kesehatan Ke-3, bagi yang mengikuti elearning ini wajib mengisi absen di kolom komentar dengan cara ketik “nama mahasiswa hadir”.
Elearning kali ini langsung ke-3 dan ke-4.
Untuk mengisi absen AKK ke-3 di kolom komentar silahkan klik disini


Setelah anda mengisi absen maka bisa langsung mengikuti topik selanjutnya tentang Latihan Perumusan masalah Kebijakan dengan cara klik disini.

LATIHAN PERUMUSAN MASALAH KEBIJAKAN







Selesai anda mempelajari Elearning AKK Ke-3 ini silahkan lanjut Ke elearning AKK ke-4, dengan cara mengisi absen lagi dan setelah itu lanjut ke materi.
Untuk mengisi absen elearning AKK ke-4 silahkan klik disini.

Kamis, 17 Oktober 2013

ELEARNING MATRIKULASI KESPRO KE - 4


SELAMAT DATANG DI ELEARNING MATRIKULASI KESEHATAN REPRODUKSI KE-4.



Anda yang mengikuti elearning ini WAJIB mengisi absensi akademik pada jadwal kuliah hari jumat sore, dan wajib melaporkan kehadiran pada elearning 4 ini pada kolom komentar yang diisi nama saudara dan pernyataan hadir.
setelah anda mengisi kolom komentar menyatakan hadir, 
untuk mengisi kehadiran anda dengan cara ketik “nama hadir” dikolom komentar silahkan klik disini , 
dan untuk memulai elearning silahkan klik disini 

INDIKATOR STATUS KESEHATAN WANITA

INDIKATOR KESEHATAN WANITA, Terdiri dari : 

A.                 KESEHATAN IBU DI INDONESIA

            Kehamilanpersalinan dan nifas  merupakan penyebabkematianpenyakit dan kecacatan pada perempuan usia reproduksi di Indonesia. Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002/2003 melaporkan angka kematian ibu (AKI) sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup. Pada tahun 2006 sebesar 226/100.000 kelahiran hidup. Menurut WHO penyebab tingginya angka kematian ibu dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu infeksi, perdarahan dan penyulit persalinan sedangkan 5 penyebab utama kematian ibu adalah perdarahan postpartum, sepsis puerperal, abortus, eklamsia, dan persalinan terhambat.

            Rendahnya kualitas hidup sebagian besar perempuan Indonesia disebabkan oleh masih terbatasnya wawasan, lingkungan sosial budaya yang belum kondusif terhadap kemajuan perempuan dan belum dipahaminya konsep gender di dalam kehidupan bermasyarakat dan berkeluarga.
Angka kematian ibu adalah jumlah kematian ibu  kerena kehamilan, persalinan, nifas dalam satu tahun dibagi dengan jumlah kelahiran hidup pada tahun yang sama  dengan persen atau permil.

Kasus kekerasan dalam keluarga, perdagangan, tekanan budaya, adat istiadat, pendidikan rendah dan dominasi pria dalam rumah tangga masih menimpa sebagian besar perempuan. Pemerintah daerah belum memiliki kesungguhan mengangkat harkat dan keijakan perempuan secara keseluruhan terutama menekan angka kematian ibu melahirkan. 

B.                  KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA DI INDONESIA

Ada sekitar 60.861.350 remaja berusia 10-24 tahun, atau sekitar 30,2 % dari total penduduk di indonesia
            Angka pernikahan dini  ( menikah sebelum usia 16 tahun) hampir dijumpai diseluruh  propinsi di indonesia. Sekitar 10 % remaja melahirkan anakpertamanya pada usia 15-19 tahun. Kehamilan remaja akan meningkatkan resiko kematian dua atau empat kali lebih tinggi dibandingkan perempuan yang hamil pada usia lebih dari 20 tahun. Demikian pula resiko kematian bayi, 30% lebih tinggi pada usia remaja dibandingkan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu usia 20 tahun atau lebih (GOI&UNICEF,2000).
            Kebayakan remaja tidak memiliki pengetahuan yang akurat tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas. Selain itu mereka juga tidak memiliki akses terhadap pelayanan dan informasi kesehatan reproduksi, termasuk kontrasepsi. Informasi biasanya didapat dari teman atau media yang biasanya sering tidak akurat. Hal ini yang menyebabkan remaja perempuan rentan terhadap kematian maternal, kematian anak dan bayi, aborsi tidak aman, IMS, kekerasan/pelecehan seksual dll.

C.                  KELUARGA BERENCANA

Jumlah penduduk Indonesia menempati urutan ke 4 terbesar setelah China, India, USA. Faktor utama yang mempengaruhi laju pertumbuhan penduduk adalah tingkat kelahiran. Tingginya angka kelahiran mencerminkan kurangnya cakupan keluarga berencana dan tujuan dari keluarga berencana yang sepenuhnya belum tercapai.
Ketersediaan dan akses terhadap informasi dan pelayanan KB, dapat mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. Jika perempuan mempunyai akses terhadap kontrasepsi yang aman dan efektif, diperkirakan kematian ibu menurun hingga 50 % termasuk penurunan resiko kesehatan reproduksi yang terkait dengan kehamilan, persalinan dan aborsi tidak aman.
Angka kesuburan umum adalah jumlah lahir hidup pertahun dibagi jumlah wanita usia subur pertengahan tahun dalam persen / permil.


D.                 INDIKATOR PENGHASILAN

Penghasilan perempuan meningkat, maka pola pemenuhan kebutuhan akan bergeser dari pemenuhan kebutuhan pokok saja, menjadi pemenuhan kebutuhan lain, khususnyapeningkatan kesehatan perempuan. Penghasilan berkaitan dengan status sosial ekonomi , dimana sering kali status ekonomi menjadi penyebab terjadinya masalah kesehatan pada wanita.Misalnya banyak kejadian anemia defisiensi fe pada wanita usia subur yang sering kali disebabkan kurangnya asupan makanan yang bergizi seimbang. Anemia pada ibu hamil akan lebih memberikan dampak yang bisa mengancam keselamatan ibu.

E.                  INDIKATOR PENDIDIKAN

Pendidikan berpengaruh kepada sikap wanita terhadap kesehatan, rendahnya pendidikan membuat wanita kurang peduli terhadap kesehatan. Mereka tidak mengenal bahaya atau ancaman kesehatan yang mungkin terjadi terhadap diri mereka. Sehingga walaupun sarana yang baik tersedia mereka kurang dapat memanfaatkan secara optimal karena rendahnya pengetahuan yang mereka miliki. Kualitas sumber daya manusia sangat tergantung pada kualitas pendidikan, dengan demikian program pendidikan mempunyai andil besar terhadap kemajuan sosial ekonomi bangsa.

a)      Angka melek huruf :
Sampai tahun 2004, persentase perempuan yang melek huruf terus mengalami peningkatan, meskipun persentasenya masih lebih rendah dari laki-laki. Secara rasionalangka melek huruf sudah mencapai 87,9%, pada laki-laki sebesar 92,3% dan padaperempuan sebesar 83.5%.

b)      Rata-rata lama sekolah :
Tahun efektif bersekolah pada umur 15 tahun sebesar 7.09% dimana pada laki-laki 7,62% dan perempuan 6,57%. Angka ini akan menunjukkkan bahwa secara rata-rata pendidikan penduduk mencapai jenjang pendidikan kelas I SLTP.

c)      Jenjang pendidikan yang telah ditamatkan :
Pada tahun 2003 penduduk usia lebih dari 10 tahun yang berpendidikan SLTP hanya sebanyak 36,21%, pada laki-laki sebesar 39.87% dan pada perempuan 32.57%.

Kondisi ini menunjukkan bahwa taraf pendidikan perempuan belum setara dengan laki-lakihal ini dikarenakan terbentuk kontruksi yang terbentuk dari masyarakat. Pendidikan yang tinggi dipandang perlu bagi kaum wanita untuk meningkatkan taraf hidup, membuat keputusan yang menyangkut masalah kesehatan sendiri. Seorang wanita yang lulus dari perguruan tinggi akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan dan mampu berprilaku hidup sehat bila dibandingkan dengan seorang wanita yang memiliki pendidikan rendah. Meningkatnya pendidikan berdampak pada pengalaman dan wawasan yang semakin luas, pendidikan dapat meningkatkan status sosial dan kedudukan seorang perempuan didalam masyarakat sehingga perempuan dapat meningkatkan aktifitas sehari-hari maupun aktifitas sosialnya. Menurut profil klasifikasi perempuan diberbagai negara menunjukkan bahwa pendidikan, pekerjaan dan kesehatan perempuan Indonesia dinilai sangat buruk.



 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Indikator Status Kesehatan Wanita

1.                  Sosial Ekonomi
   v    Kemiskinan
   v    Status wanita yang rendah

2.                  Faktor Pelayanan Kesehatan
   v    Faktor penolong
   v    Faktor sarana
   v    Faktor akses ke fasilitas kesehatan

3.                  Faktor Personality
   v   Perawatan antenatal
   v   Paritas
   v   Gizi kurang
   v   Keselamatan kerja

4.                  Faktor Psikologi
   v    Konflik dan peran seksual

   v    Riwayat penyalahgunaan seksual

Berikutnya adalah menjawab pertanyaan dikolom komentar.
Pertanyaan :

  1. Jelaskan faktor apa saja yang bisa menyebabkan kematian ibu ?
  2. Jelaskan apa yang akan anda lakukan untuk memperbaiki faktor pelayanan kesehatan guna meningkatkan status kesehatan reproduksi.

Rabu, 09 Oktober 2013

ELEARNING ANALISIS KEBIJAKAN KESEHATAN KE-2

Selamat datang di Elearning Analisis Kebijakan Kesehatan Ke-2, bagi yang mengikuti elearning ini wajib mengisi absen di kolom komentar dengan cara ketik “nama mahasiswa hadir”.

Untuk mengisi absen di kolom komentar silahkan klik disini


Setelah anda mengisi absen maka bisa langsung mengikuti topik selanjutnya tentang Prosedur Analisis Kebijakan dengan cara klik disini.

PROSEDUR ANALISIS KEBIJAKAN


Setiap melakukan analisis terhadap suatu kebijakan, baik terhadap kebijakan yang ada maupun yang belum ada selalu dimulai dengan “Perumusan Masalah”, berdasarkan masalah yang tersebut kita dapat menilai dan menemukan asumsi-asumsi untuk pemecahan masalahnya.

Setelah masalah-masalah diiventarisir dan sesuai dengan masalah kesehatan masyarakat (masalah publik) kita lakukan penyusunan agenda (agenda setting), dimana kita merumuskan periotas masalah dan menentukan siapa saja yang akan diajak untuk membahas masalah kebijakan tersebut.

Peramalan mengkaji segala kemungkinan yang akan terjadi akibat suatu kebijakan kalau diterapkan, suatu contoh : bila kita akan menuntaskan masalah tingginya angka kesakitan dan kematian pada balita akibat penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi maka kita akan mengeluarkan kebijakan wajib imunisasi pada bayi, selanjutnya kita harus kaji kemungkinan akibatnya apa saja yang akan terjadi, baik dampak sosial, dana, politik, dan klinis.




Setelah tahap peramalan selesai mengkaji segala akibat dari suatu kebijakan maka kita membuat rekomendasi kebijakan dengan segala pertimbangan tersebut diatas.











Secara skematis prosedur analisis kebijakan dapat dibuat seperti alur berikut ini.

Berikut ini akan dijelaskan tentang informasi-informasi yang relevan dengan setiap prosedur kebijakan

Secara keseluruhan mekanisme analisis kebijakan berorientasi masalah dapat digambarkan seperti dibawah ini :
Masalah-masalah yang ada kita kaji kemudian kita lakukan perumusan masalah, dimana perumusan masalah kita kaji lagi terhadap rencana kebijakan dan kemungkinan akibat yang ditimbulkan dari hasil kebijakan, selanjutnya sebagai bahan evaluasi untuk mengukur kinerja kebijakan apakah sesuai atau tidak dengan pemecahan masalah, hasil kajian tersebut menjadi peramalan terhadap masa depan kebijakan.
Masa depan kebijakan kita kaji apakah sudah sesuai tidak terhadap penyelesaian perumusan masalah, dan hasil kajian tersebut merupakaan rekomendasi kebijakan selanjutnya kita laksanakan dalam bentuk aksi kebijakan, sekaligus dilakukan pemantauan sampai menghasilkan sesuatu dari kebijakan dan kita kaitkan lagi dengan perumusan masalah untuk bahan evaluasi, demikian seterusnya siklus analisis kebijakan berorientasi masalah, dimana seluruh tahapan kita analisis dengan masalah kebijakan

KUIS :
Setelah anda mempelajari tentang Prosedur Analisis Kebijakan tersebut diatas, maka selanjutnya WAJIB menjawab pertanyaan dibawah ini dikolom komentar (JANGAN LUPA TULIS NAMA ANDA) :
  1. Jelaskan apa yang dimaksud “Perumusan masalah, Peramalan, Rekomendasi, Pemantauan dan evaluasi dalam prosedur kebijakan.
  2. Jelaskan perbedaan 5 Prosedur analisis kebijakan dengan 5 informasi kebijakan  .
  3. Berikan contoh Siklus Analisis Kebijakan Berorientasi Masalah Dalam Bidang Kesehatan.